3bce2dbaf14ad6b16ba785410d5218929bb7486f
Hanya Berbagi Berbagi dan Berbagi

Kedudukan As Sunnah dalam Islam

0 381
Kedudukan As Sunnah dalam Islam
  • Version
  • Download 5
  • File Size 321 Kb
  • File Count 1
  • Create Date 14 Februari 2020
  • Last Updated 12 Februari 2020

Ebook yang ada di hadapan pembaca ini adalah buku yang di tulis Syaikh Muhammad Naashiruddin Al-Albani berjudul asli Manziilatus-Sunnah fil-Islaam kalau di terjemahkan Kedudukan as-sunnah dalam islam. Buku ini merupakan muhadlarah (ceramah) yang pernah beliau sampaikan di kota Dauhah ibu kota Qatar, pada bulan Ramadhan tahun 1392 H. Buku ini adalah terjemahan bahasa indonesia yang saya ambil dari online e-Book Maktabah Raudhah al Muhibbin yang disalin dari blog akh. Abu Al-Jauzaa' melalui blog pribadi beliau http://abul-jauzaa.blogspot.com.

Rangkuman Ebook Kedudukan As Sunnah dalam Islam

Berikut adalah rangkuman dari saya editor, saya rangkum dari ebook 30 halaman ini dengan tema yang sangat penting, Karena merupakan salah satu pokok syari'at yamg mulia, yaitu penjelasan pentingnya As-sunnah dalam syari'at islam. Karena hanya rangkuman sobat bisa membaca keterangan lengkap di ebook yang bisa sobat download secara gratis, direct download tak perlu khawatir link berputar - putar.

Kedudukan As-sunnah Terhadap Al quran

Kita semua mengetahui bahwa Allah tabaaraka wa ta’ala telah memilih Muhammad dengan nubuwwah, memuliakannya dengan risalah, menurunkan kepadanya kitab-Nya Al-Qur’an Al-Karim dan memerintahkannya untuk menerangkan kepada manusia.

Allah ta’ala berfirman :  

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

”Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (QS. An-Nahl [16]: 44). tafsirnya

Menurut pandanganku (Asy-Syaikh Al-Albani), Al- Bayan (penjelasan) yang disebutkan dalam ayat ini mencakup 2 macam penjelasan :

  • Pertama, penjelasan lafadh dan susunannya, yaitu penyampaian Al-Qur’an tidak menyembunyikannya dan menyampaikan kepada umat, sebagaimana Allah ta’ala menurunkannya kepada beliau .
  • Kedua, Penjelasan makna lafadh atau kalimat atau ayat yang ummat ini membutuhkan penjelasan. Yang demikian ini banyak dalam ayat-ayat yang mujmal (global), ammah (umum), atau muthlaq. Maka datanglah As-Sunnah menjelaskan yang mujmal, mengkhususkan yang umum, dan membatasi yang muthlaq. Yang demikian ini semuanya terjadi dengan perkataan beliau sebagaimana terjadi pula dengan perbuatan dan taqrir beliau.

Pentingnya As Sunnah untuk Memahami Al-Qur’an dan Contoh-Contohnya

Firman Allah ta'ala :

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Maidah [5] : 38). tafsirnya

Ayat ini merupakan contoh yang baik dalam masalah ini, karena kata pencuri dalam ayat ini bersifat muthlaq. Demikian pula dengan tangan. Jadi, sunnah qauliyah menerangkan yang pertama (yaitu pencuri) dengan membatasi pencuri yang mencuri 1⁄4 dinar dengan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا قطع الافي ربع دينار فصاعدا

”Tidak dipotong tangan kecuali mencapai 1⁄4 dinar atau lebih” [Diriwayatkan oleh Al- Bukhari dan Muslim].

Sebagaimana sunnah menerangkan maksud “tangan” dengan perbuatan beliau , perbuatan shahabatnya, dan ijma’ bahwa mereka dahulu memotong tangan pencuri pada batas pergelangan, sebagaimana telah dikenal dalam kitab-kitab hadits.

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا

"Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS. An-Nisaa’ [4] : 101). tafsirnya

Dhahir ayat ini menghendaki dikerjakannya shalat qashar dalam safar itu dengan syarat adanya perasaan takut. Oleh karena itu shahabat Rasulullah bertanya kepadanya: “Apakah kita mengqashar padahal telah aman?” Rasulullah menjawab:

“Ini adalah shadaqah, Allah bershadaqah dengannya kepada kalian, maka terimalah shadaqah-Nya”.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِير

”Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah ...” [QS. Al-Maidah : 3].

As-Sunnah menerangkan bahwa bangkai yang halal adalah bangkai belalang dan ikan. Sedangkan hati dan limpa termasuk darahyang halal. Rasulullah bersabda:

”Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah, yaitu : bangkai belalang dan ikan (semua jenis ikan) serta hati dan limpa” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi secara marfu’ dan mauquf. Adapun hadits yang bersanad mauquf adalah shahih yang dihukumi dengan marfu’. Hal tersebut dikarenakan bahwa perkataan tersebut tidak mungkin diucapkan hanya berdasarkan ra’yu semata].

Kesesatan Para Pengingkar Sunnah

Dewasa ini telah ditemukan satu kelompok yang menamakan qur’aniyyin yang menafsirkan Al-Qur’an dengan nafsu dan akal-akal mereka, tanpa meminta bantuan dengan As-Sunnah Ash-Shahiihah.

Bagi mereka As-Sunnah hanya sebagai pengikut hawa nafsu mereka. Jika sesuai dengan hawa nafsu mereka, maka mereka berpegang dengannya dan yang tidak sesuai mereka buang ke belakang punggung mereka.

Nabi telah mengisyaratkan tentang mereka dalam hadits yang shahih :

لاألفيّن أحدكم متكأ على اريكته ،يأتيه الأمر من أمري مما أمرت به ، فيقول : لاأدري ! ماوجدنا في كتاب اللّه اتبعناه

“Salah seorang dari kalian betul-betul akan menjumpai seseorang yang sedang duduk di singgasananya, kemudian datang urusanku kepadanya dari apa yang aku perintahkan atau aku larang, maka dia berkata,”Aku tidak tahu! Semua yang kami dapatkan di dalam Kitabullah itulah yang kami ikuti” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi].

Dalam riwayat lain : Dia berkata : “Apa-apa yang kami jumpai (pada Al-Qur’an) sebagai sesuatu yang haram, maka kami mengharamkannya” Berkata Rasulullah : “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur’an dan yang semisalnya (hadits) bersamanya”

Dan diriwayat yang lain lagi : Berkata (Rasulullah ) :

”Ketahuilah, sesungguhnya semua yang dilarang oleh Rasulullah shallallaahu seperti apa yang dilarang oleh Allah”

Hadits shahih di atas menjelaskan secara tegas bahwa syari’at Islam bukan Al-Qur’an saja, melainkan Al- Qur’an dan As-Sunnah. Barangsiapa berpegang dengan salah satunya, berarti dia tidak berpegang dengan yang lain. Padahal masing-masing dari keduanya memerintahkan untuk berpegang dengan yang lain seperti firman Allah :

 مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka." (Qs. An-Nisa' 80)

Tidak Cukup Pengertian Bahasa Saja untuk Memahami Al-Qur’an

Dari penjelasan di atas telah jelas dan terang bahwasannya tidak mungkin seorang memahami Al- Qur’an walaupun dia mahir dalam bahasa Arab dan sastra-sastranya jika tidak dibantu dengan Sunnah Nabi , baik qauliyyah maupun fi’liyyah. Karena dia tidak mungkin lebih alim atau lebih mahir dalam bahasa Arab daripada para shahabat Nabi yang Al-Qur’an turun dengan bahasa mereka dan pada waktu tersebut belum tercampur bahasa ‘ajam, awam, dan lahn (kesalahan bahasa). Namun walaupun demikian, mereka para sahabat telah salah dalam memahami ayat-ayat yang telah lewat, ketika mereka hanya bersandar dengan bahasa mereka saja.

Atas dasar itu jelaslah bahwasannya seseorang jika semakin alim dalam sunnah, dia lebih pantas untuk memahami Al-Qur’an dan mengambil istinbath hukum darinya dibandingkan orang yang bodoh tentang sunnah. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak menganggap sunnah dan tidak pula meliriknya sama sekali ? Oleh karena itu sudah merupakan suatu kaidah yang disepakati oleh ahli ilmu bahwasannya Al-Qur’an ditafsirkan dengan As-Sunnah, kemudian dengan perkataan shahabat.....dan seterusnya.

Dari sini jelas bagi kita sebab-sebab kesesatan tokoh- tokoh Ahli Kalam dulu dan sekarang serta perbedaan mereka dengan as-salafush-shalih dalam keyakinan- keyakinan mereka terutama dalam hukum-hukum mereka, karena jauhnya ahlul-kalam dari Sunnah dan dangkalnya pengetahuan mereka tentang Sunnah dan mereka menghakimi ayat-ayat tentang shifat (Allah) dan yang lainnya dengan akal dan nafsu mereka.

Barangsiapa berbicara dengan pikirannya dan sangkaannya sendiri tentang agama Allah ini, serta tidak menerimanya dari Al-Kitab, dia berdosa walaupun kebetulan benar. Barangsiapa mengambil Kitab dan Sunnah, dia mendapatkan pahala walaupun salah (dalam berijtihad). Tetapi jika benar, akan dilipatkan pahalanya”.

Kesimpulan

Sesungguhnya wajib atas semua muslim untuk tidak membedakan Al-Qur’an dengan As- Sunnah dari sisi kewajiban mengambil dan berpegang dengan keduanya serta menegakkan syari’at di atas keduanya bersama-sama. Karena ini adalah penjamin mereka agar tidak berpaling ke kiri dan ke kanan. Agar mereka tidak mundur dengan kesesatan sebagaimana Rasulullah telah menjelaskan :

تركت فيكم أمرين ، لنتضلوا ماإن تمسكتم بهما : كتب اللّه وسنتي ، ولن يتفرقا حتى يردا على الحوض

”Aku tingalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berselisih sampai keduanya mendatangiku di telaga Haudl” [Diriwayatkan oleh Malik dan Al-Hakim, dengan sanad hasan].

Preview Ebook "kedudukan as sunnah dalam islam"

Ini adalah preview 30 halaman lengkap ebook kedudukan as sunnah dalam islam silahkan anda download dari tombol download gratis yang sudah saya sediakan. Untuk membacanya di android bisa menggunakan 3 aplikasi pembaca ebook android bagi sobat yang memakai linux bisa memakai 6 aplikasi pembaca ebook terbaik untuk linux

 

Demikian pembahasan tentang kedudukan as sunnah dalam islam yang dapat kami sebutkan. Semoga apa yang kami tulis menjadi penerus dakwah rosul, yaitu dakwah tauhid, semoga menjadi amal shalih dan ilmu yang bermanfaat bagi penulisnya maupun pembaca semuanya.


Terima kasih telah berkunjung dan mendownload.


File
kedudukan as sunnah dalam islam.pdf
Kedudukan As Sunnah dalam Islam | Kangsoel Blog

Ebook yang ada di hadapan pembaca ini adalah buku yang di tulis Syaikh Muhammad Naashiruddin Al-Albani berjudul asli Manziilatus-Sunnah fil-Islaam kalau di terjemahkan Kedudukan as-sunnah dalam islam. Buku ini merupakan muhadlarah (ceramah) yang pernah beliau sampaikan di kota Dauhah ibu kota Qatar, pada bulan Ramadhan tahun 1392 H. Buku ini adalah terjemahan bahasa indonesia yang saya ambil dari online e-Book Maktabah Raudhah al Muhibbin yang disalin dari blog akh. Abu Al-Jauzaa' melalui blog pribadi beliau http://abul-jauzaa.blogspot.com.

URL: http://www.raudhatulmuhibbin.org

Nama: Manziilatus-Sunnah fil-Islaam

Penulis: Array

Tanggal Diterbitkan: 2020-09-30 22:00

Format: https://schema.org/EBook

Peringkat Editor:
5
Subscribe ke email newsletter
Subscribe ke email newsletter
Daftar untuk mendapat artikel terbaru, update aplikasi dan Ebook gratis langsung dari Inbox.
Anda bisa unsubscribe kapan saja
Loading...